Tag: Opini

  • Peraturan Masyarakat

    Dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus mematuhi peraturan (norma) yang berlaku. Peraturan yang dibuat oleh orang-orang terpandai dalam masyarakat. Peraturan tersebut dirancang supaya orang-orang pandai bisa hidup dengan nyaman.

    Orang-orang bodoh, tidak akan mengerti peraturan-peraturan tersebut. Tetapi orang-orang pandai tau, bagaimana menggunakan dan memainkannya. Peraturan-peraturan tersebut akan terus melayani orang-orang pandai. Sebagai contoh, pajak, gaji, dana pensiun, asuransi, pelayanan kesehatan, alokasi dana, subsidi, dan lain-lain.

    Orang-orang pandai dengan sengaja membuat peraturan yang sangat sulit untuk dimengerti. Sementara orang-orang bodoh yang berusaha memahami peraturan itu diperlakukan seperti idiot. Jadi bagi orang-orang bodoh, sepanjang hidupnya akan dicurangi dan diharuskan membayar lebih banyak.

    Orang-orang pandai tidak bisa ditipu dengan mudah, mereka akan mengambil manfaat dari situasi ini. Situasi orang-orang bodoh yang dicurangi dan ditindas sepanjang waktu. Ini adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Jika Anda tidak bisa menerima kenyataan ini, buatlah peraturan sendiri! Jika Anda ingin hidup tanpa dicurangi, belajarlah!

  • Jangan Gunakan Autofocus pada Form Login

    Autofocus adalah salah satu atribut baru yang dikenal pada HTML 5. Autofocus adalah sebuah atribut boolean (true/false). Atribut autofocus akan secara otomatis mengatur fokus ke kotak input yang telah ditentukan. Jadi bisa dibilang autofocus menghemat 1 kali mouse klik.

    Contoh website yang menggunakan autofocus pada kotak input adalah mesin pencari Google. Ketika ingin mencari sesuatu melalui Google, kita tidak perlu mengeklik pada kotak input untuk bisa mengetik kata kuncinya. Secara otomatis kursor berkedip di kotak input, pertanda bisa langsung mengetik di situ.

    Di bawah ini adalah potongan kode untuk menunjukan penggunaan autofocus.

    <label for="nama">Nama </label><input id="nama" name="nama" type="text" autofocus="autofocus"/>
    

    Pada atribut boolean seperti autofocus, pengisian nilai tidak mutlak diperlukan, jadi penulisan seperti di bawah ini juga benar.

    <label for="nama">Nama </label><input id="nama" name="nama" type="text" autofocus/>
    

    Semua browser moderen mendukung fitur ini, kecuali Internet Explorer. Untuk mengimplementasikan fitur ini pada browser yang tidak mendukung autofocus, maka bisa digunakan JavaScript. Namun bukan itu yang menjadi masalah di sini. Perhatikan potongan kode di bawah ini.

    <label for="nama">Nama </label><input id="nama" name="nama" type="text" <strong>autofocus="autofocus"</strong>/> <br />
    <label for="password">Password </label><input id="password" name="password" type="password" />
    

    Ada sebuah halaman yang berisi sebuah form login. Salah satu kotak input-nya memiliki atribut autofocus. Jadi kursor akan secara otomatis berkedip di kotak “nama” setelah halaman selesai dimuat seutuhnya. Namun beberapa pengguna tidak sabar atau tidak mengetahui fitur ini, sehingga mereka mengeklik pada kotak input “nama” tanpa menunggu halaman dimuat seutuhnya. Akibatnya, ketika pengguna sampai pada kotak input “password”, lalu halaman selesai dimuat seutuhnya, maka kursor akan berpindah lagi ke kotak input “nama”.

    Bayangkan jika seseorang sedang mengetik di kotak password lalu tiba-tiba kursor berpindah ke kotak input “nama” yang notabene bertipe text. Password-nya akan tercetak di kotak input “nama” tanpa samaran. Hal ini fatal karena password bisa dilihat oleh orang lain yang kebetulan lewat di dekat kita.

    autofocus text input

    Website yang menerapkan fitur ini pada form login contohnya adalah Facebook, sedangkan yang tidak adalah Twitter.

  • Kisah Si Penjual Sepeda

    Alkisah pada suatu masa di negeri antah berantah, muncul sebuah perusahaan yang melakukan praktek penjualan licik. Bermula dari suatu iklan di koran dan majalah:

    PROMO SEPEDA ISTIMEWA

    DAPATKANLAH DENGAN HARGA 10 DOLLAR

    bukan 50 dollar

    JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN INI

    MINTALAH KETERANGAN CUMA-CUMA

    KEPADA KAMI:

    ……………………….

    Tentu saja banyak orang menaruh hati pada iklan itu. Mereka meminta keterangan persyaratannya. kemudian katalogpun dikirimkan.

    Apa yang diperoleh mereka atas 10 dollar bukanlah sebuah sepeda, melainkan 4 kupon untuk dijual pada temannya dengan harga 10 dollar setiap kupon. Jadi, bila dia dapat mengumpulkan 40 dollar untuk diserahkan ke perusahaan itu maka sebuah sepeda memang didapatkannya. Dengan demikian, orang itu memang hanya membayar 10 dollar, sisanya 40 dollar berasal dari kantong orang lain. Tak pelak selain membayar 10 dollar dia harus mencari orang yang bersedia membeli 4 kupon itu, nampaknya memang tidak memerlukan ongkos tambahan.

    Apakah arti kupon itu sehingga ada orang yang mau membeli seharga 10 dollar? Dia sendiri membeli hak untuk menukar kupon ini dengan 4 kupon serupa. Pemilik-pemilik kupon yang baru, akan menerima 4 kupon untuk penyebaran selanjutnya.

    Sepintas tak ada kelicinan dalam aturan permainannya. Perusahaan selalu memegang janji, sepeda itu sungguh-sungguh dapat dibeli seharga 10 dollar. Demikian juga perusahaan tidak mengalami kerugian. Perusahaan selalu menerima harga penuh sebuah sepeda, yaitu 50 dollar.

    Akan tetapi, cara ini adalah jelas sebuah kelicikan. Karena keranjingan ini menyebabkan kerugian pada sebagian orang yang tidak dapat menjual kuponnya. Orang-orang inilah yang membayar kekurangannya. Cepat atau lambat, suatu saat para pemegang kupon merasa tidak mungkin menjual kupon itu lagi. Kita bisa hitung bertambahnya para pemegang kupon secara pesat.

    Kelompok pembeli pertama, yang menerima kupon langsung dari perusahaan, biasanya tak mengalami kesulitan mencari pembeli (4 partisipan baru). Kelompok selanjutnya harus menjual kupon mereka pada 16 orang yang lain (4 x 4), dan untuk menjualnya mereka harus meyakinkan pembeli. Kita anggap saja mereka berhasil membujuk 16 partisipan, maka mereka ini harus menyebarkan kepada 16 x 4 = 64 partisipan yang lain.

    Jadi dari 1 pembeli langsung telah diperoleh 1 + 4 + 16 + 64 = 85 partisipan, 21 di antaranya menerima sepeda, sedangkan 64 orang sisanya diberikan harapan menerima sepeda, sebuah harapan yang harus dibayar 10 dollar untuk sebuah sepeda :).

    Cakupan wilayah penjualannya kian meluas dan semakin menyusup ke semua sudut negeri, sehingga makin sulit menemukan prospek baru. Enam puluh empat partisipan baru itu harus menjual kuponnya kepada 256 korban baru, yang pada giliran selanjutnya harus menjual pada 1024 orang. Dalam sekejap sebuah kota kecil di negeri itu pun kebanjiran kupon.

    Tawaran itu telah menyeret kian banyak orang ke dalam ngarai yang tak berlembah. berikut ini adalah “kedalaman ngarai” itu:

    1

    4

    16

    64

    256

    1024

    4096

    16384

    Seterusnya bisa dicari dengan rumus 4n, nilai konstanta 4 adalah jumlah korban yang harus dicari, dan variable n adalah tingkatan/kedalaman ngarai.

    Jika di kota kecil itu cukup banyak pengendara sepedanya, misalnya ada 21845 orang, maka demam itu akan melanda kota dalam 8 putaran saja. Pada saat itu semua orang telah terseret, namun hanya ¼ nya memperoleh sepeda, sisanya hanya akan menjadi “pemilik masa yang abadi”, karena pasti tak akan sanggup menjual kupon-kupon tersebut.

    Meskipun kota terpadat di dunia sekalipun, ambang kejenuhannya akan segera tercapai, karena piramida bilangan di atas sangat pesat pertumbuhannya. “Otak yang kurang sehat” akan menjadi penjual sukarela tanpa hasil.

     

    Catatan:
    Cerita di atas adalah fiktif tetapi teknik yang digunakan asli dan bisa diterapkan di dunia nyata. Rasanya tak berlebihan kalau saya menganalogikan cerita di atas dengan bisnis MLM. Hanya orang-orang yang berada di level atas bisa menikmati hasilnya, karena itulah mereka sering berkata: “Kalau saya bisa, Andapun bisa!”.
    Empat fakta MLM yang saya kumpulkan:
    1. Di perusahaan biasanya pemilik usaha menggaji karyawan, sedangkan di MLM tidak ada sistem seperti itu.
    2. Di perusahaan biasa, si A dengan kedudukan lebih rendah dari si B bisa saja suatu waktu mendapat promosi dan akhirnya kedudukan si A lebih tinggi dari si B, sedangkan di MLM, downline (si A) selamanya tidak akan bisa menjadi upline (si B).
    3. Pada umumnya jalur distribusi barang terdiri dari produsen, distributor, dan konsumen, sedangkan di MLM, kita jadi distributor/penjual, sekaligus konsumen sendiri.
    4. Dari cerita di atas menunjukkan pasar yang tidak terbatas, saya pernah baca pasar yang tak terbatas itu menyalahi ilmu ekonomi.

    Cerita ini pernah dipublikasikan di blog lama saya yang tiba-tiba dihapus secara sepihak dari pihak web hosting gratisan 😀 Namun dengan berbekal webarchive akhirnya saya bisa menemukan kembali cerita lama itu. Link di atas juga sebagai bukti bahwa saya pernah memposting kisah itu.